Remaja, sukanya hura-hura?
Kita berharap, tentu bukan anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan di atas. Namun, kita kudu berani akui kalo informasi dunia remaja yang hadir ke permukaan via media massa justru banyak yang mengarah ke sana. Kita jadi bertanya: “Kenapa sih nggak ada tayangan yang menggambarkan sosok remaja yang kreatif di jalur yang benar, serius dalam belajar, gigih mencari ilmu, dsb yang baik-baik?” Kenapa yang dihadirkan tuh yang kesannya hura-hura?
Padahal, nggak semua remaja gitu deh.
Apakah ini ingin menggiring opini bahwa remaja harus hura-hura, nyantai dan kesannya miskin idealisme?
Penelitian di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, dan Ujungpandang oleh Gatra yang bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, turut menjawab pertanyaan di atas. Hasil survei memperlihatkan, remaja Indonesia cenderung bersikap apolitis dan apatis terhadap keadaan. Mereka lebih banyak memanfaatkan waktu untuk berhura-hura ketimbang melakukan kegiatan positif. Lebih dari itu, mereka bersikap permisif terhadap perilaku kebebasan seks.
Data lain menunjukkan, bahwa banyak teman remaja yang nggak terlalu tertarik untuk memanfaatkan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif, seperti belajar atau membaca buku. Hampir 31% (246 orang) memilih mejeng di mal atau pertokoan, berhura-hura, menenggak minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, dan mementingkan kepuasan indrawi (hedonisme).
(Gatra, 3/01/98). Waduh, pigimane urusannya?
Emang nggak bisa dipukul rata hasil penelitian di atas untuk ngegambarin potret remaja secara umum. Cuma masalahnya acara televisi yang disajikan bagi remaja sekarang ini malah makin menguatkan hasil survei di atas. Dalam sinetron remaja, ceritanya seputar cinta, cemburu, kasmaran, seks bebas, yang dikemas dalam gaya hidup glamour.
Status sih boleh siswa berseragam sekolah,atau mahasiswa, tapi perilakunya mencoreng nama baik kaum terpelajar. Yang ditonjolin cuma dandanan modis dengan segala aksesoris, hobi nge-dugem, atau mejeng di mal. Sementara kegiatan belajar-mengajar, diskusi pelajaran sekolah, kreativitas dalam mempraktekkan ilmu, semangat dalam belajar, rela berkorban dan saling menolong, atau potret remaja idealis? Aha, kayaknya nggak ada dalam kamus tayangan-tayangan remaja populer saat ini. Kasian deh ih!
Menjadi generasi cerdas bermoral.
Sobat, pengaruh media berpengaruh juga atas pembentukan informasi remaja iya ngga? indah banget ya kalo idealisme para pengelola tv itu nggak abis digerogotin ‘ideologi rating’. Tentu program televisi yang menghibur dan penuh manfaat dengan mudah kita nikmati. Kerinduan kita akan hadirnya cerita remaja berkualitas semodel ACI atau Rumah Masa Depan di jaman baheula akan segera terobati. Perbaikan potret buram para pelajar dengan menghadirkan sosok-sosok siswa berprestasi yang pantang menyerah melawan keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan bisa jadi teladan. Atau sebuah kompetisi intelektual yang dikemas dengan gaya populer untuk menghasilkan pelajar berprestasi tentu menjadi nilai positif dari media untuk kita.
Selain itu, pembinaan untuk membentuk karakter dan pengenalan jati diri remaja juga nggak boleh ketinggalan. Pihak media punya peranan besar dalam hal ini jika mau sedikit peduli dengan memberikan informasi yang seimbang terhadap rusaknya budaya populer yang lahir dari gaya hidup sekuler masyarakat Barat. Agar pemirsa juga cerdas dan sekaligus bermoral. Baik pola pikir, maupun pola sikap.
Kalo kita cuma ngisi hidup kita dengan hura-hura dijamin bakal sengsara akhirnya juga. Sebab hidup kita kan nggak jalan di tempat. Nggak selamanya kita jadi remaja. Jika saatnya tiba dan Allah mengizinkan, kita bakal jadi orangtua, berkeluarga, dan punya tanggungjawab yang harus kita pikul. Kebayang dong kalo kondisi itu lalai kita siapkan dari sekarang selagi punya kesempatan dan kekuatan di usia muda, masa depan kita bisa amburadul...dul...dul!
Dan yang paling penting, kontrak hidup kita nggak selamanya diperpanjang. Malaikat Izrail atas perintah Allah bisa ngecengin kita kapan aja dan di mana saja. Karena itu, marilah kita menjadi generasi cerdas dan bermoral, seperti yang (saya ambil dari kata bijak Tokoh Besar Islam ),
Muhammad saw: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah.
Predikat generasi cerdas dan bermoral ini bisa kita raih kalo kita nggak keberatan untuk mengenal ajaran keyakinan serta agama yang di anut lebih dalam, memahaminya, dan menjadikannya sebagai aturan/pedoman hidup kita. Daripada banyak hura-hura mendingan banyakin nyari pahala/kebaikan sebanyak-banyaknya. Jadi, mari lebih bermoral dan bermartabat sebagai manusia Indonesia yang cerdas yuk?!